Kamis, 22 September 2016

Tawa Tangis Kita Menyenangkan

Aku melihatmu dalam kemandirian itu. Dalam tanpa kedok dan kepura-puraan bekerja keras. Dalam sungguh yang tiada namun diadakan. Jatuh bangun yang pernah engkau alami mendewasakanmu dalam banyak hal. Dalam nekerja, dalam bersikap, dan dalam berpikir.

Aku ingin kau ajarkan aku. Dalam dirimu yang telah menjadi bagian dari diriku.
Aku ingin bersamamu. Bersama sedihmu. Bersama tawamu. Bersama sedih dan tawa dan jatuh bangun yang diulang-ulang. Sampai kita lupa bagian mana disebut kesedian.

Dalam kerapuhan ada kekuatan. Dalam kekuatan ada arang melintang. Ini mengartikan kalau yang disebut susah atau senang adalah suram. Kita saja yang tahu. Kita saja yang merasa. Kita saja yang mau. Mau pilih menyenangkan atau menyusahkan keadaan yang terus berjalan hingga nyawa melayang.

Aku ingin sederhana saja. Yang tak berpikir harus banyak uang. Yang tak begitu berharap harus punya kijang. Apalagi kemewahan tapi selalu 'perang'. Punya kamu dan anak kita yang selalu senang. Bisa tertawa. Bisa jalan-jalan. Bisa bermain di pantai. Bisa main ayunan di taman. Ini cukup.

Ah!

Jepara, 22 September 2016

Minggu, 21 Agustus 2016

Selamat Ulang Tahun, Diri!

Selamat Ulang Tahun, Diri!
Peritiwa ini seperti tahun lalu. Tepat tanggal 20 Agustus, hari ketiga setelah peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) Republik Indonesia, setelah 46 tahun Indonesia merdeka, aku lahir. Dilahirkan emak.
Senyum sumringah pasti juga terlihat di wajah bapak waktu itu. Juga kakek. Juga nenek. Juga saudara, kerabat, dan tetangga. Kecuali aku, barangkali. Itu sebabnya, aku (juga setiap bayi yang lahir) memecah tangis diantara senyum sumringah dan tawa banyak orang. Karena sejak hari itu sudah terlihat tanggung jawab mengemban amanah di bumi tuhan.
Ini tahun ke-24 aku lahir. Tahun ke-6 melepas diri dari kampung halaman. Enam tahun lamanya aku terlempar dari bumi kelahiran ke tengah-tengah pulau seberang, Jawa Tengah. Enam tahun terasa aku menjalankan diri, menasehati diri, belajar mengajar diri, menghajar diri, memuji mencela bahkan kadang mencaci maki diri.
Selama itu pula, yang bisa aku mengerti, bahwa hidup laiknya bermain judi: bertaruh, menaruh harapan, lalu kalah atau menang. Aku belum sepenuhnya kalah juga belum sepenuhnya menang. Sebab permainan masih terus berjalan hingga titik darah penghabisan.
Selamat ulang tahun, diri!
Hari ini engkau diingatkan. Melalui sorak dan doa kawan, melalui kelindan wajah emak, melalui nasihat bapak dan keluarga dari seberang. Agar diri tak lapuk dan tunduk nyerah dengan keadaan. Agar diri terus melangkah berjalan dan berlari kencang. Agar diri makin percaya diri. Agar diri terus mencari sampai menemukan jati diri. Agar diri lebih mandiri. Juga tahu diri pada apapun yang terjadi.
Selamat Ulang Tahun, Diri!
Hari ini engkau dapat hadiah. Bingkisan doa dari kawan, lawan, keluarga, sanak famili, hingga kiai. Amin. Terima kasih kawan dan salam takdzim saya haturkan untuk kiai Nor Khalis Ishaq. Terima kasih atas doanya.
Jepara, 20 Agustus 2016

Minggu, 14 Agustus 2016

Inginku memelukmu, Ibu

Ingin sekali aku memelukmu, ibu. Selama mungkin. 
Sampai setelah itu, engkau perlu berganti gaun sebab kuyup oleh air mata anakmu.

Ibu. Ingin sekali aku merangkulmu. Seerat mungkin.
Sampai aku tak sadar,  kalau aku masih hidup dan perlu engkau lepas untuk melihat kehidupan.

Di dalam bola matamu, ibu, aku melihat wajahku.
Dulu lbu bilang, itu bukan bayang. Itu memang aku yang tak pernah lepas dari pandangmu.
Ibu lalu memegang pipiku. 
Mengelus kepalaku. 
Mencium pipi kanan kiriku. 
Ibu memelukku. Dan kepalaku,  tepat menyentuh dada ibu. 
Aku merasakan hangat. Kudengar bunyi ibu mengecup ubun-ubun. Makin erat kupeluk dan kusandarkan kepalaku di dada ibu.

Ibu lalu pergi sebelum aku merasakan itu berkali-kali.
Ingin lagi aku memelukmu, ibu. Selama mungkin. 

Semarang, 14 Agustus 2016

Selasa, 03 November 2015

Asep, Ibu dan Lunturnya Sifat Keibuan Bangsa

Asep, salah seorang sahabat saya sejak kali pertama saya melanjutkan studi di UIN Walisongo Semarang tahun 2010 pernah membacakan puisi tentang ibu. Sambil terisak, suaranya yang tak begitu merdu itu diiringi instrumental. Tak banyak orang tahu kecuali setelah musikalisasi puisi yang dibuat sendiri itu disebar melalui aplikasi soundclaud, media sosial, bluetooth dari teman ke teman. Karena itu asep menjadi pupuler di kalangan kawan-kawannya.

Senin, 19 Oktober 2015

Sandal



Saya tidak tau pasti siapa penemu sandal pertama kali. Kucari-cari, tak kutemukan siapa dia dan seperti apa wajahnya. Barangkali memang ia dianggap tak begitu penting dan tak menarik, sampai-sampai penemu sandal tidak sepopuler Alexander Graham Bell sang penemu telpon atau Thomas Alfa Edison sebagai penemu bola lampu. Sandal, makhluk rendahan itu, seperti yatim piatu tak punya bapak tak punya ibu. Ia bagai anak haram yang sengaja dibuang di terowongan untuk menutupi sebuah peristiwa kebiadaban.

Senin, 12 Oktober 2015

Lisan

Sesungguhnya tak boleh ada yang keluar dari mulut seseorang kecuali perkataan yang baik. Selain itu, diam menjadi bahasa yang lebih baik. Tuhan dan Rasulnya Muhammad sepakat dengan penegasan ini. Ia berjanji, jaminan keselamatan akan diberikan kepada orang-orang yang mampu melakukan ini: diam karena tak ada hal penting yang perlu disampaikan atau memilih bicara karena akan memberi manfaat bagi yang mendengar.