Senin, 30 September 2013

Pahlawan Senja

Di seberang jalan, di bawah pohon itu untuk pertama kali aku ingin menemuimu. Di senja itu aku akan menjadi pahlawan bagimu. Dari sebuah gedung yang bertengger tepat dari bagian muka, engkau keluar dengan langkah gontai. Engkau menuju ke arahku yang sedang duduk di atas jog motor di pinggir jalan. 

Dari kedalam hati mulai terdengar dentuman keras yang membuat segala tingkah jadi tak berjalan secara alami. Engkau semakin mendekat dengan senyum khas seperti yang terdapat di dalam beberapa foto yang pernah kulihat dalam dairymu yang kutemukan di rak temanmu.

"kak,," dengan riang kau telah berdiri tepat di depanku.

"Ini bukunya"

Kusodorkan sebuah buku. Kedatanganku tak lain memang untuk mengantarkan buku itu. Aku meminjamkannya untukmu dari sebuah perpustakaan lantaran kamu kesulitan mendapat buku itu.

"Kok cuma satu kak, yaaah"

"Sebenarnya ada dua, tapi aku bisanya hanya pinjem satu"

"Aku butuh sepuluh refrensi, kak"

"Ya mau gimana lagi. Adanya cuma itu kok"

"Ya sudah gak apa-apa, kak"

"Kalau kamu mau, kamu boleh pinjem sendiri di perpustaakan. sebenarnya tadi aku sudah dapat dua. Hanya saja tak boleh aku meminjamnya kecuali satu buku itu"jelasku

 "knapa kak?"

"Aku sudah punya tanggungan satu buku. Jadi ya, tidak bisa pinjam lebih dari satu"

"owg gitu ya, kak? ya sudah, ini saja tidak apa-apa"

“Terima kasih, kak”

Engkau pergi dengan ucapan terimaksih, kembali menuju gedung itu. Dari belakang terus kuperhatikan langkahmu yang gontai. Hingga sesaat engkau ditelan oleh daun pintu di salah satu gedung itu, aku masih melihatmu.

Setelah itu, aku pergi dengan hati yang sedikit riang karena merasa telah menjadi pahlwan untukmu.

Metafor

Tak begitu mudah membuat cerita naratif yang mengalir laiknya air dari dasar sungai ke lembah yang curam. Sama halnya tak begitu mudah aku berkisah tentang liur asmara yang mengalir dari dari hati ke hati antara romantisme dua insan.


Yang ku tahu dan sangat dan amat mudah untuk dilakukan adalah memenggal kenyataan dalam pena dengan mengetengahkan beberapa sandiwara yang sedikit absurd. Semua tertuang dalam lembar-lembar kosong kertas elektonik dan berserakan dimana-mana, di baca untuk kemudian disanjung atau dihina. Dan bisa jadi telah melahirkan jiwa-jiwa yang sama.


Bukti dan saksi atas senyum atau tangis akan selalu ada jika tangan ini tak berhenti dan tak mengenal lelah untuk selalu menari memainkan lentikan jemari dari tuhan untukku yang merindukan kedamaian.


Semarang, 01 Oktober 2013

Potongan Kisah Marni

Masih ingatkah ketika kau selalu mengajak bermain di antara buah dada yang kau anggap itu sempurna. Kau juga tak henti-hentinya memainkan lidah melabrak lidahku ketika dua pasang bibir telah menyatu dalam kecup erat yang kau anggap itu adalah nikmat surga. Setelah itu kau seperti tak punya mata untuk menyaksikan kenyataan yang ada disekitarmu.

Ah, kau juga seringkali meminta untuk dipijat ketika pantatmu merasa bengkak setelah beberapa saat diremas-remas oleh lelaki yang hampir di setiap penghujung malam itu menghampirimu dengan birahi yang meluap-luap. Dari balik pintu aku melihatmu telah diperlakukan laiknya kuda liar. Sesekali terlentang. sesekali miring dan sesekali mendongak disertai teriakan-terikan yang membuat siapapun yang mendengar akan mengencangkan otot-otot.

Aku tak bisa bercerita banyak hal tentang semua yang telah engkau lakukan dengan pria-pria berjas itu. Biarlah kisahmu itu tenggelam bersama remukan-remukan tubuhmu oleh percakapan roda dan rel yang memisahkan semua organ tubuhmu beberapa hari yang lalu.

Ah, rupaya hidup yang kau jalani telah mempersiangkat usiamu. Marni, Marni !


Semarang, 01 Oktober 2013

Jumat, 27 September 2013

Malam Ini


Puisi Hassan Natata

Malam ini
Aku terlelap dalam hayal.
Sepintas kuratapi wajahmu yang elok dan berseri
walaupun tanpa lesung pipi.


Malam ini
kutautkan dalam hati,
kan kujadikan engkau terminal dalam perjalanan
cinta yang penuh duri ini.

Karna denganmu kutemukan ketenangan dalam hati

Malam ini
Aku berharap sudilah engkau menyisakan ruang di relung hatimu
untuk kujadikan pertapaan , membingkai cinta yang suci tetap membunga di sanubari.

Semarang, 28 September 2013

Rabu, 25 September 2013

Kecam Udinus Pecat Mahasiswa, Aktivis LPM Demo

lihat di: http://www.wawasanews.com/2013/09/kecam-udinus-pecat-mahasiswa-aktivis.html

Puluhan mahasiswa yang tergabung dalam Perhimpunan Pers Mahasiswa Indonesia (PPMI) Indonesia Dewan Kota Semarang melakukan aksi penolakan tindakan represif terhadap kebebasan berpendapat aktvis pers mahasiswa oleh Universitas Dian Nuswantoro, dan beberapa perguruan tinggi di Indonesia, Rabu, (25/9). Aksi tersebut diikuti oleh perwakilan dari Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) dari berbagai kota, antara lain dari Kab. Pati, Kudus, Jepara, Pekalongan dan D.I Yogyakarta.

Dari Patung Kuda Universitas Diponegoro (UNDIP) Pleburan Semarang, puluhan aktivis pers mahasiswa dari berbagai kota itu long march menuju Kantor Gubernur Jawa Tengah di Jalan Pahlawan, Semarang sambil menutup mulut pakai plaster. Mereka menyebut aksi tersebut sebagai aksi bungkam. Ini sebagai simbol bahwa beberapa kebebasan berpendapat insan pers telah dibungkam. Terutama soal kasus pemecatan Wahyu Dwi Pranata, Mahasiswa Universitas Dian Nuswantoro yang dipaksa mengudurkan diri karena pemberitaannya di blog pribadi dan beberapa tulisannya di Portal Online WAWASANews.Com yang menyangkut beberapa kasus di kampusnya beberapa waktu lalu.

“Kasus pemaksaan pengunduran tersebut tidak sesuai dengan  tanggung jawab dari suatu institusi pendidikan yang seharusnya mendidik,” ujar Sekretaris Jenderal (Sekjend) PPMI Nasional Daffi, dalam orasinya.

Selain kasus yang menimpa Wahyu, dalam aksi yang hanya berlangsung sekitar 20 menit itu, Daffi juga menyampaikan beberapa permasalahan yang terjadi pada lembaga pers mahasiswa di Indonesia seperti pencekalan Kampus Unigha, Aceh, terhadap LPM Pijar karena memberitakan kasus korupsi, pencekalan kampus STIM Bongaya terhadap LPM Watak karena dituduh mempropaganda mahasiswa saat pelatihan dan kasus-kasus lain yang telah menimpa beberapa LPM di Indonesia.

“Jika dalam institusi pendidikan kebebasan berpendapat dikekang dan di kebiri, bagaimana dengan kehidupan berbangsa dan bernegara,”katanya

Dari beberapa kasus pembungkaman yang terjadi, mereka menuntut empat hal sebagaimana tertera dalam press release yang mereka sebarkan. Pertama, mengecam tindakan pembungkaman pada kebebasan berpendapat dan kritik yang membangun bagi mahasiswa. Kedua, meminta dengan tegas pihak Dikti untuk menegur secara langsung dan meninjau kembali kampus bermasalah. Ketiga, mengajak seluruh pemimpin di Indonesia agar bijak dalam menjalankan hak tanya dan hak jawab dan klarifikasi terlebih dahulu sebelum memberikan hukuman kepada mahasiswanya. Keempat, meminta negara melindungi berjalannya kebebasan berpendapat dalam institusi-institusi pendidikan.

Di depan Kantor Gubernur itu mereka berharap, Gubenur Jawa Tengah Ganjar Probowo menemui mereka dan memberikan tanggapan langsung atas permasalahan ini. Namun, setelah ditunggu sekitar 15 menit, gubernur tidak juga datang menemui. Akhirnya, kepala bagian pemerintahan Drs. Supriyono yang menemui peserta aksi. “Pak Ganjar Pronowo sedang tidak di kantor,” kata Supriyono.

Ia berjanji, dalam jangka dua hari ke depan pihak gebernur akan memberikan komentar melalu media massa terkait dengan masalah ini. Tepat pukul 10.37 peserta aksi itu meninggalkan halaman gedung gubernur dengan membawa harapan.

“Jika selama dua hari ke depan gubernur tidak memberikan komentarnya melalui media, kami akan datang dengan masa yang lebih banyak lagi,” ujar Daffi. (Arifin)

Selasa, 24 September 2013

Rasa


Tak apalah jika kupingmu tak mendengar setiap apa yang aku ketukkan. Asal engkau masih dapat merasa, aku senang.

Rasakan setiap hentakan syair yang memenuhi malammu


Syair rindu dariku.


Semarang, 14 September 2013

Kali Pertama

Pertama kulihat dirimu, ketika kau hadapkan muka ke kiblat disebuah musolla kecil di pesantren. Dengan temanmu, kau akan memimpin jama’ah. Aku melihatmu dari jendela dengan kaca hitam. Kutempelkan wajahku hingga jelas bahwa kulihat engkau di dalam. Engkau terhenti.

Rupanya kedatanganku membuatmu terganggu. Tak ada niat untuk mengganggumu. Kamu tersenyum lebar, sedikit melepas tawa. Rupanya kehadiranku menjadi lelucon hingga kau tak marah padahal engkau terganggu.

Tak kulihat engkau sebagai sosok yang lebih ketika itu. biasa saja, aku sebagai kakak kelas di madrasah tsanawiyah dan sebagai orang yang lebih dahulu di pesantren dibanding engkau. Baru beberapa minggu orang tuamu mengantarmu kepesantern ini.

Waktu berlalu. Kulihat engkau dengan beberapa temanmu latihan menyanyi. Dari halaman bawah, kusambangi dirimu lebih dekat dari pantulan suaramu melalu alat pengeras di lantai dua gedung sekolah itu. Semakin jelas, kau menyanyikannya dengan sangat merdu. Diringi dengan lantunan musik, engkau menari dengan lentik. Dibelakang, temamu mengikuti. Kuperhatikan engkau. Sesekali kau tertawa karena kesalahan yang kau perbuat.

Aku suka suaramu. Baru kutahu engkau orang berbakat. Kuperhatikan wajahmu. Kurasakan setiap aliran darah yang mengalir di tubuh, engkau benar-benar dekat hingga membuatku senang jika terus menerus memandangimu. Aku sadar, rupanya sihirmu membuatku tak dapat tidur. Memikirkanmu adalah hal paling kerap kurasakan. Kalah saing mata pelajaran disekolah, ia membuatku pusing.

Kurasakan itu berhari-hari, berbulan hingga bertahun-tahun. Aku benar-benar ingin mengenalmu.

Rabu, 18 September 2013

Edisi Para Ladies Part I

I/
Berangkat dari profesi sebagai pengamat facebook, aku menemui keanihan pada beberpa pengguna facebook. Dalam pemahaman saya, setiap orang yang nge-like sebuah status, tandanya ia suka, terkesan, atau bahkan kagum terhadap status tersebut. Dan bagi saya, hanya itu. tidak ada unsur lain kecuali karena status itu sendiri yang patut diapresiasi.”

“Namun, yang terjadi, beberapa status orang tertentu justru mendapat puluhan bahkan ratusan "like" dari orang lain. Padahal, status orang tersebut tidak lebih sekedar ecek-ecek. Barangkali ada pemakaian logika yang kurang tepat yang harus disadari secara massal”.

Atau ada unsur lain yang berpengaruh bagi orang tersebut. Misal, teman akrab, cewek cantik, cewek idaman, ingin cari perhatian dari orang tersebut, atau ihwal lain yang berasal dari si penulis status.
Pemanfaat teknologi yang tidak sesuai dengan porsinya. Memang, hal ini sederhana, sejauh tidak merugikan orang lain, tidak masalah dan bukan pelanggaran terhadap norma. Apa lagi dikaitkan dengan kebebasan.

Setiap orang punya kebebasan untuk melakukan apa saja yang diinginkan. Hanya, kebebasan yang mereka lakukan tidak mengganggu dan melangkahi kebebasan orang lain. Itu sah-sah saja.
Barangkali karena hal inilah status yang diupdate 18 november 2012 ini disebut dengan status aneh. Bahkan, tak segan-segan, kedua bibiku; Halimah dan Muslihatin, bondowoso, menyebut, akulah yang aneh. Setiap orang punya kebebasan menilai orang lain. tak masalah.

Bagiku, status ini tidak aneh. Aku hanya ingin berfikir, mengamati hal yang ada dilingkunganku mulai dari hal ihwal yang amat dan sangat sederhana. Karena segalanya berawal dari yang kecil. Tak ada “kebesaran” kalau taka da “kekecilan”. Oleh karenanya, memulai Sesutu memang semestinya dari yang kecil.
Salah seorang motivator pernah berkata, think big, start small, go fast: berfikir besar, mulai dari yang kecil, bergerak cepat.

Melalui hal sederhana ini, setidaknya telah menjadi bukti bahwa aku pernah hidup di dunia ini. yakni, dengan goresan yang singkat ini.

II/
Kebiasaan yang terjadi dalam dunia cinta anak remaja, mahasiswa atau apa lah yang lainnya, cowok lah yang harus pontang-panting mencari dan mendapatkan wanita untuk dijadikan pendamping hidup. Minimal pacar. Sementara seorang wanita hanya diam  seribu bahasa, menunggu rayuan (gombal) seorang cowok. "enak men dadi cewek!". Mereka hanya nyatai dan menunggu. Bahkan, dia punya otoritas penuh untuk menolak atau menerima tembakan cowok. Pun ia seringkali sewenang-wenang dalam memberi keputusan. Ia tak peduli, betapa besar pengorbanan cowok untuknya, jika tak suka, akan ditolak secara semena-mena. Memang ada, sebagian yang menolaknya secara halus.

Salah satu status teman cewek di facebook begini, wanita sangat mengedepankan perasaan. Maka jangan sekali-kali memainkan perasaan cewek. Karena sekali perasaan itu terlukai, maka akan diingat seumur hidupnya.

Tanpa ditelusuri, baik secara psikologis maupun sosiologis, aku merasakan ambiguitas pada seorang cewek teritama dalam hal perasaan, apakah yang di maksud dengan cewek identik dengan perasaan itu adalah suatu anjuran bahwa sebagai cowok dilarang “memainkan perasaan cewek" atau sebaliknya, "cewek memang tak punya perasaan", alias kejam.

Mungkin, sudah masyhur dikalangan masyarakat khususnya para pemuda. Dan ini adalah bagian dari teori dalam sebuah disiplin ilmu. Bahwa cewek, dalam menentukan pasangannya, ketampanan cowok bukan lah ukuran. Berbeda dengan cowok, ketika melihat cewek yang cantik, tidak bisa tidak ia akan tertarik. Minimal ia merasa kagum.

Ini tidak terlalu benar, menurutku. Bagaimana kita melihat ketika seorang cewek mengagumi tokoh idolanya di televisi. Banyak wanita histeris, bahkan dirinya tiada berarti. Bagaimana reaksi para cewek ketika penyanyi ngetop Justin Bieber beraksi di Indonesia. Ah, “tak jauh beda antara susu dan teh”.
Ada pula, si cewek memutus hubungan setelah ia tahu seperti apa cowok yang ia kenal melalui sms. Di sisi lain, banyak cewek yang tidak memberi kesempan sama sekali bagi orang tertentu untuk mengenal dirinya. Itu karena, barangkali, pada pandangan pertama, cewek tak merasa tertarik pada si cowok.

Demikian Edisi Para Ladies Part I, Nantikan Bagian Selanjutnya,,, he he,
Mohon maaf jika ada pihak yang merasa tersinggung. ini bukan apa-apa hanya sekedar basa-basi..

# edisi special pra ladies. Semarang, 18 November 2012.

Senin, 16 September 2013

Di Sebuah Kamar Kecil

Di sebuah kamar kicil// Kita berada sama dalam keberbedaan// Engkau mewujud selaksa angin dan aku seperti ranting pohon yang rindang//Kau meniup ku dalam kesadaran elastis//  Menggoyahkan heninggnya lagu-lagu malam.

Aku mengandaikanmu dalam kenyataan.

Ketika fajar tiba// Aku menemukanmu// Tapi, aku tak dapat membuka dialog dengan kata manis dan melangit.

Kata orang, itu modal// Aku tahu, tanpa modal omset besar tak dapat diraup// Aku tak suka anekdot, metafora apalagi personifikasi// Bagiku, semua itu adalah bagian dari dunia khayal yang sulit terungkap dalam kenyataan.

Aku percaya, bahasa cinta yang sederhana akan membuatmu menangis di penghujung malam, malam-malam.

Semarang, 14 Oktober 2012

Catatan Kecil Anak Rantau tentang Kampung Sekarat yang Melahirkannya



Tiga tahun aku sudah meninggalkan rumah. Pergi ke sebuah negeri yang asing yang tak pernah kubayangkan sebelumnya. Barangkali inilah yang disebut
dengan anugerah
tuhan hingga aku bisa berfikir dan bertindak serta bercita-cita secara bebas. Di tempat itulah aku telah memulai kehidupan baru,
belajar bersosialisasi, menata diri, mandiri dan belajar untuk mengerti hakikat hidup. Di tempat itu akan mendapatkan banyak hal yang nantinya akan kubawa ke kampung. Tentu hal yang positif yang akan berdampak baik bagi kampungku.
Hal ini dilarbelakangi oleh keadaan kampung yang selama ini tak lebih dari kampung comberan, kampung tertindas, kampung yang hanya menjadi permainan penguasa. Kampung yang di pimpin oleh kepala desa yang bejat. Bejat secara moral dan goblok secara ilmu pengetahuan. Tak tahu kemajuan. Dan buta perkembangan luar.
Mereka diangkat jadi penguasa karena kekuatan mereka yang dulunya dapat menggertak masyarakat. Mereka punya kekuatan, baik secara fisik maupun ekonomi. Masyarakat diancam. Ia dibayar dengan uang yang sesungguhnya adalah milik sendiri. Ketakukan masyarakat menjadikan ia terpilih menjadi kepala desa.
Ya, begitulah. Kepala desa yang hanya ingin meningkatkan popularitas.Sumpah serapah yang ia katakan di awal ia ingin menjabat tak lebih dari buayan belaka. Masyarakat semakin miskin. Ia dimiskinkan karena sebagian haknya dirampas untuk kepentingan sendiri. Di saat desa sebelah telah mengalami berbagai macam perkembangan, baik dalam ilmu pengetahuan atau pembangunan, desaku masih klasik. Ia berjalan seperti apa adanya. Yang jadi kuli masih tetap pada kedudukannya, yang setiap hari pergi ke sawah menggarap tanah tak terlihat perubahan.
Aku berfikir ini adalah tanggung jawabku sebagai anak muda. Karena pemuda sejatinya adalah pemimpin masa depan. Aku tidak boleh menjadi pemuda laiknya pemuda kebanyakan yang telah tumbuh di kampungku. Mereka sudah banyak terpengaruh oleh ulah para penindas itu. Aku yang sudah pergi beberapa tahun yang lalu, harus membawa kehidupan baru yang menjadikan kampungku lebih maju.
Banyak hal yang harus aku lakukan. Mulai dari mencerdaskan generasi muda yang ada di kampung hingga pada persoalan moralitas yang sudah carut marut. Moralitas adalah hal utama yang perlu dibangun. Dengan begitu penindasan, perampasan hak, dan kesewenang-wenangan tidak akan terjadi.
Aku akan memulai dari mengumpulkan orang-orang potensial yang masih punya keinginan untuk maju. Kami akan bersatu melawan penindasan. Menundukkan penguasa yang lalim. Kemudian menciptakan penduduk yang bermartabat.
Setelah itu, aku akan mengembangkan pendidikan, lapangan pekerjaan dan memeberikan soft skill untuk masyarakat. Mengubah kehidupan yang semula klasik, melarat, menjadi kehidupan yang menyenangkan.
Aku sudah mulai berdiskukusi dengan salah seorang teman. Aku mengagumi temankuku itu lantaran sejak awal aku mengenalnya, ia sudah mulai merancang sebuah pembangunan di kampunya. Terutama juga pembangunan moral. Ia mengumpulkan anak muda di kampungnya kemudian membentuk organisasi pemuda yang secara spesifik membincang masa depan pemuda dan kampung. Misinya tak lain menciptakan kehidupan yang bermartabat. Kampung yang cerdas dengan mengembangkan sumber daya.
Rupanya tak begitu mudah jika membincang masyarakat yang ada di desa. Dengan beragam pemikiran dan orientasi hidup yang mereka inginkan, teramat sulit menyatuka visi tersebut. Salah satu permasalah mendasar adalah, kita selaku konseptor harus siap dibenci, dicaci maki dan diperlakukan secara tidak wajar.
Itulah yang harus aku persiapkan terlebih dahulu. Menyiapkan diri menghadapi beragam tantangan yang harus kuhadapi. Tentu saja permasalah di kampung yang aku anggap lebih besar dari masalah yang ada di kampung temanku itu, barangkali yang akan menjadi taruhan adalah nyawaku sendiri. Apa lagi berkaitan dengan kepala desa yang angkuh yang sekaligus juga menjadi bos bajingan di kampungku.
Aku mulai merancang strategi. Salah satunya aku menghubungi temanku yang juga sepertiku. Ia pergi ke sebuah negri yang cerdas yang nantinya jiga akan mengembangkan kemampuannya di kampung. Aku sudah memiliki teman yang memiliki satu misi denganku.
 ***
Kalau dilihat sepintas secara keamanan, kampungku terbilang aman. Hal ini dapat kulihat dari tidak adanya pencurian sejak beberapa tahun lalu ketika kepala desa yang sekaligus bos bajingan itu sudah menjabat menjadi kepala desa. Namun, ya itu, lagi lagi sebenarnya masyarat dibodohi dengan hanya meminta dan menuntut keamanan, tanpa menuntut hak lain yang seharusnya ia dapatkan.
Hal lain yang terjadi, meskipun aman secara fisik, justru yang menjadi korban adalah kampung lain. mereka menjadi korban kebejatan orang-orang bejat di kampungku. Siang-dan malam kerusuhan hampir terjadi di mana-mana. Siang hari adalah hari pertengkaran yang dipelopori olah anak muda. Membuat ulah dimana-mana. Sedangkan malam hari yang terjadi adalah pencurian yang membabi buta.
Akhirnya, siapa yang tak kenal kampungku. Kampung yang terletak di daerah terpencil, terdiri dari perbukitan. Hampir seluruh kampung dalam satu kabupaten mengenal kampungku. Sayangnya, ketenaran itu bukan karena kampungku subur, bukan karena budaya yang bagus, bukan karena sosial dan ekonomi yang mapan. Melainkan kampung penindas. Kampung yang menjadi tempat persembunyian orang-orang penindas, maling, rampok, penjudi, pemabok dan lain sebagainya.
 Sebagai anak muda yang lahir di sana aku terkadang merasa malu jika ditanya orang daerah asalku. Sesekali aku ingin sekali mengelak dengan mengakui kampung lain sebagai kampungku. Tap perasaan tetap tidak menerima. Bagaimanapun ia adalah kampungku. Kamping yang menjadi asal mula aku hidup, dan dilahirkan di sana. Mencintai kampung sendiri seperti halnya nasionalisme, mecintai tanah air.
Oleh karena itu, yang terpenting yang harus aku lakukan adalah merubah citra jelek yang selama ini telah melekat pada orang-orang harus aku rubah hingga kembali mendapat cirta yang baik. Dengan cara menumbangkan pemerintahan yang sewenang-wenang dan menggantinya dengan pemerintah yang sholid dan memihak kepada masyarakat kampung.
Tentu saja ini membutuhkan tenaga yang menguras. Karena akan ada pihak yang tidak menerima terutama dari pihak oposisi. Yakni, pihak maling dan bajingan dan komplotannya. Untuk orang ini aku berencana untuk menjadikan aparat desa yang khusus untuk menangani bidang keamanan. Kekecewaan mereka dengan sistem yang baru akan aku beli dengan uang. Akan aku jamin kehidupan mereka khususnya berkaitan dengan kebutuhan ekonomi. Karena aku melihat, sebagian mereka yan bergabung dengan komplotan bajingan dan maling itu lantaran mereka tak punya uang untuk hidup. Di tambah mereka yang malas untuk bekerja keras. Mereka tak ingin hidup susah hingga perbuatan bejatlah yang menjadi pilihan.
***
Tiga tahun aku berada di negeri orang. Namun pikiranku tidak perlah lepas dari cita-cita membangun desa. Aku tak begitu memikirkan kota orang. Karena mereka sudah memilik masyarakat sendiri untuk memikirkannya. Kalau aku memikirkan daerah orang, maka siapa lagi yang akan memikirkan kampungku.
Aku melihat banyak sekali kesalahan-yang telah dilakukan olah seorang perantau ketika ia telah sukses di daerah rantau. Kebanyakan mereka tinggal di daerah rantaunya dan melupakan kampung halaman mereka. Mereka egois. Mereka tak sadar kalau tampa kampung yang melahirkan mereka, ia tak akan seperti sekarang ini.
Aku akan menjauh dari sikap-sikap seperti itu. desaku adalah surgaku. Tempat yang telah melahirkan aku. Aku harus menjaganya dari setiap gangguan dan kerusakan karena ulah tangan-tangan yang tidak bertanggung jawab.
Kampungku
Kampungku
Kampungku saat ini menjadi kampung sekarat, kampung melarat, kampung bejat dan kampung yang tidak bermartabat.
Tunggu kedatanganku. Aku merindukanmu dengan wajah yang baru.


Semarang, 16 September 2013
15.34 WIB

Sabtu, 14 September 2013

Indahmu



doc.google.com

Aku yang mengajarimu tentang cinta// Cinta sederhana: Kuajarakan kepadamu tentang ketulusan // Mencintai dalam pahit/ Menyayangi dalam sedih// Memahami walau gelap sedang menyapa lingkar hidup.

Indah namamu yang selalu kuingat dan ku tunggu kabarmu dari seberang// Kita bersatu dalam keterpisahan// Aku yang jauh ingin selalu mendekat// Engkau yang jauh dekatkahlah hatimu untukku.
Karenanya aku merindu// Karenanya aku menunggu// Karenanyapun engkau harus tahu tantangku yang mengharapkanmu.

Dalam doa selalu kuingat engkau// Dalam dzikir selalu kesebut namamu dan namanya// Indah namamu menjadi semangat hidupku.

Indah namamu mengubah hariku// Indah namamu mengobar semangat juangku// Senja itu menjadi awal perjumpaan kita.

Aku mendapatimu dalam tasbih. Kesucian mendapatiku menemukanmu di antara tasbih-tasbih itu// Aku dalam diam menyaksikanmu menyaksikan untaian mutiara dari bibir jenius.

Dari wajah-wajah imut dan lucu// Dari keseriusan yang sungguh akan mengobatimu dari rasa haus akan pengetahuan baru// Indahnya hari itu seperti indah namamu.

Indah// Indah// Indah.
Benar-benar indah jika keindahan memang tertakdir untuk kita.


Semarang, 26 Agustus 2013
20:13 WIB