Minggu, 26 April 2015

AKU INGIN BERKENALAN. Maukah?




adakah sekat di dunia tanpa batas?
barangkali.
hanya, oleh jasad yang tak akan pernah dapat lepas landas


kita tengah hidup di dunia 'gila'
gila-gilaan dapat berkata
memuja
menghina
berbagi
mencaci
membenci
mencintai
di lepas kendali

Aku ingin berkenalan. maukah?
kau beri aku kesempatan
untuk memuja tanpa harus menghina
jika ternyata kau memang hina
untuk berbagi tanpa harus mencaci
jika ternyata kau pantas dicaci
untuk mencintai tanpa harus membenci
jika ternyata kau pantas dibenci

Aku ingin berkenalan
untuk kau beri sedikit pujian
jika karena kau aku pantas dipuji

dalam tegur sapa
dalam kata
pena
maya
di lepas kendali
tentang sajak purnama

Semarang, 2015

Minggu, 19 April 2015

GINGSUL



google.com


Masih kuingat tangan kakek
memegang se utas tali dengan matan mendellek
tak henti-hentinya mulut itu memanggil nyaring
ketika aku berlari
mencari tempat sembunyi


             "kemarilah nak, gingsul, nanti jika tak dicabut gigimu itu" ucap kakek

aku tak paham kata-katanya.
yang kutahu rasa sakit sudah terasa semenjak dua hari yang lalu
gigiku goyah. gigi depan sebelah kiri.
kukira gegara makan sembarangan
rupanya, itulah rumus alam yang kutahu setelah besar beberapa tahun silam.

rupanya kakek sayang kepada cucu: aku
gingsul gigi tanda tak bagus. Tak rapi. Tak berarti.
kecuali merusak tancap gigi: gusi

lalu, aku mengerti walau kadang tak kupahami:

gingsul gigi dalam racikan senyum kamboja, manis
di sebelah sana kujumpai
gingsul gigi, penghapus seribu benci.

     Indah!
                  tak pernah habis

                                meski lepas dari senyum sinis

Semarang, 2015
Sajak oleh Miftahul Arifin

Sajak Cinta; I Love You



Cintaku padamu
Sayangku padamu
padamu cinta dan sayangku

kukatakan malam itu
lewat kata yang tak begitu jelas
lewat canda yang tak mungkin tegas
lewat maya yang menempatkan kita di ruang lepas

Aku di sini dan engkau di sana
kita dipisah oleh ruang dalam waktu panjang
Dan, tahukah engkau!
ada bimbang di setiap sudut jalan:

Sehatkah engkau
  sedang apakah engkau
    sudah makankah engkau
                                                                      sudah mandikah engkau
                                                                        sudah shalatkah engkau
                                                                          bersama siapakah engkau
                                                                             senangkah engkau
                                                                               rindukah engkau
                                                                                 apa yang kau rasakan
                                                                                   apa yang kau pikirkan
                                                                                     apa yang kau inginkan

                                                                Adakah aku dalam engkau dan yang kau pikirkan

                                                               Pertanyaan-pertanyaan itu tak pernah keluar
                                                               oleh sebab, perhatian tak mesti terwakilkan oleh kata dangkal

             mata yang dijaga
             telinga yang dijaga
             tangan yang dijaga
             mulut yang dijaga
             hidung yang dijaga
             kaki yang dijaga
            dada yang dijaga
            perut yang dijaga
            bawah perut yang dijaga
            rasa yang dijaga
            hati yang dijaga

           Dan, doa yang terus menggema
adalah kepedulian paling nyata

Tahukah engkau ma!
aku tak melakukanya karena tak ingin engkau tahu,
kalau aku melakukannya

Tapi, sebait puisi telah berbuat curang
mengata yang tak mesti dikata
Dan diam-diam berbisik:

                          "I Love You" katanya, menirukan turis manca negara.

Semarang, 2015

Selasa, 14 April 2015

Tafakur di Ujung Senja


Di ujung senja ini
tak inginku bertemu apapun
tak inginku bicara dengan siapapun
dan tak inginku duduk-berdiri diantara apapun

        pun aku tak ingin diganggu,
        sekalipun oleh bunga dan kuntum

Semenjak pagi menjelang, mengembang, terbang, hilang: siang datang
lalu, menjemput ajal
Tiba-tiba senja datang, 
tanpa isyarat kalau hari ini tak pernah kupandang gemintang

iya,
karena hari tadi, siang, pikirku ulang
tidak!
Bintang tak pernah pulang setelah malam

         Lalu, aku terkapar dalam legam

kesal,

sial,

sesal

         Gegara pantat hitam

di tafakur senja ini, aku mengharap hujan
datang dalam petang

                        besok, aku belum ingin pulang 


Semarang, 2015

Senin, 13 April 2015

RINDU

Secangkir kopi panas takkan bisa menghapus ingatan tentang kekasih.

Rindu. Bulan kupandang semakin sayu. Padahal purnama tengah membuka mata, memecah deretan mendung yang menutup aura langit. Aku mulai bertanya, tapi pertanyaanku melepuh diantara bayangan yang sedari tadi menyergap: menutup cahaya lampu,


menyelimpung kaki,

mengunyah lapar,

menerkam kesadaran,

mendekam angan.

Dan hanya keinginan yang terus menerus menikam.

Tak ada sajak mesra dapat kau ucap, kecuali jasad dalam  tatap dan cakap kita walau dalam pekat.

Semarang, 2015

Minggu, 12 April 2015

Nyanyian Angin


Akulah Angin
             yang berhembus dalam gelap dan terang
             yang menyusup dalam sesak dan renggang

Akulah Angin
             yang memberi nafas kehidupan
             yang melepas rantai kematian

             Akulah Angin yang melambai lewat api dan pohon rindang

Sabdaku pada asap
Sabdaku pada daun
Sabdaku pada ranting
Sabdaku pada batang
Sabdaku pada ombak
Sabdaku pada gelombang
Sabdaku pada tebing
Sabdaku pada gedung

              Akulah badai dalam ayat reruntuhan
              Akulah ayat tuhan tanpa Qur’an,
              tanpa huruf dan sakal

Aku hidup di negeri angin
Bersama babi, tikus dan celeng
Babi mengaku nabi, tikus memakan rakus
dan celeng yang hidup mentereng
Merongrong merengreng nasi sepiring kaum “koreng”

Aku  hidup di negeri celeng
Celeng-celeng main kaleng
Bermain dadu penuh birahi dan nafsu

Aku hidup di negeri celeng
Merangkai sajat lewat badai dan duka bencana

Akulah angin
Tanpa wujud
Kadang mewujud seperti kentut yang mengutuk

Inilah laguku,
Lagu rindu di negeri kelabu

Semarang, 10 April 2015
Dilaunching pertama kali pada pentas sastra “Sajak Purnama” UKM Metafisis Fakultas Ushuluddin UIN Walisongo Semarang