Senin, 04 Agustus 2014
Sendiri dalam Sepi
Sabtu, 02 Agustus 2014
Mainanku Yang Hilang
Moncek Timur, 02 agustus 2014
Masih kuingat hari itu kubawa pulang ribuan karet. Beruntung! aku menang dalam permainan padahal lawanku adalah orang dewasa. Usiaku masih terlalu dini untuk mengingat detail berapa sesi, berapa modal awal dan berapa kali sempat dikalahkan hingga aku menjadi pemenang diakhir pertandingan.
Hari itu aku main "tongghuen" (karet dikumpulkan jadi satu. Lalu dilempar dengan cara menarik sebagian ke tugu yang telah disediakan). Banyak model yang kami kenal. Sebenarnya ada banyak model yang kami tahu. Ada pettatan gedung, onjebban, bunderren dan selte'an. "Tongghuen adalah model permainan karet dengan skala paling besar.
Senang. Hasil kemenanganku aku simpan di sebuah tempat khusus di rumah. Sebagian aku pilah pilah, yang bagus dan tidak. Warna juga demikian. Kuning dengan kuning, merah dengan merah, biru dengan biru dan lainya.
Permainan karet sifatnya musiman. Namun aku dan teman-teman tak pernah khawatir. Musim berakhir berarti akan berganti dengan musim yang lain, permainan baru. Hasil kerja musim ini akan disimpan untuk digunakan pada musim yang sama yang akan datang.
Kami jalani hidup masa kanak-kanak. Desa Muncek Timur yang kami tinggali mendidik hidup kami mengalir begitu saja dengan aneka permainan yang cukup komplek. kadang sampai dimarahi ibuk karena telat pulang, kadang dimarahi orang karena mengganggu ketentraman dan kadang pula kami saling bertengkar satu sama lain karena kurangnya pemahaman.
Ada banyak permainan yang aku dan dan teman seumuran lakonkan. Setiap jenis memiliki banyak model. Kami tak pernah ketinggalan untuk melakukannya bersama-sama. Setiap waktu. Setiap musim. Setiap kesempatan.
Malam yang jauh setelah hari itu. Kami berbincang di pinggir jalan, di samping halaman masjid desa kami. Kesadaran mulai terbuka ketika malam mulai larut, rupanya masak kanak-kanak kami telah lama berlalu. Kami mengulang masa itu dengan cerita2 sederhana. Gelak tawa meledak sesekali ketika peristiwa lucu saling kita ingat. Tentang mainan-mainan tradisional. Tentang kebersamaan mencari burung di gunung.
Tentang perjalanan ke kali-kali dengan membawa pancing. Tentang kebersamaan mengejar layang2 putus. Tentang petak umpet. Tentang tembak-tembakan dengan menggunakan pelepah pisang. Tentang jalan2 ketika bulan puasa tiba. Tentang lari pagi sebelum subuh tiba. Tentang mencuri mangga di sawah2 orang. Tentang balapan dengan pelepah penang di tebing2. Tentang sero'an buncis. Tentang mobil-mobilan dan macam-macam.
Ditengah cerita-cerita malam itu kami mulai mengerti, permainan2 itu sepertinnya kini telah mulai hilang, jarang ditemui pada adik adik. Bahkan sebagian besar telah musnah, digantikan mainan-mainan modern yang dianggap lebih baik. Kalau dulu ladang, sawah, gunung, jalan, halaman adalah tempat kebersamaan kami, kini kebersamaan itu terjalin dalam kejauhan melalui sebuah ruangan berukuran kira satu meter persegi. Warnet. Atau melalui produk2 impor buatan asing.
"Permainan dulu telah dirusak oleh cina" ujar salah seorang teman dengan nada guyon bahasa kami. Madura.
Ah! Andai masa kecil itu bisa ditarik kembali akan kuulangi lagi permainan2 itu bersama teman-teman. Akan kubeli klereng2 dan kita akan berkumpul lagi di halaman. Akan kuambil pelepah2 penang untuk aku bawa ke tebing2. Akan kuambil bambu dan pelepah pisang untuk aku jadikan pistol. Karet2 akau kubeli untuk ku kalahkan teman dengan berbagai model permainan: tongguen, bunderren, geddungan dan onjebben. Akan kubeli kelereng untuk aku mainkan dengan pot potan dan lobengan. Akan kuambil nyamplong2 di bukit untuk diadu di kali2. Akan kuajak lagi bermain sudur, banting, pal palan, juk taijuk, lak laalak butah, guringan dan jikjighen.
Dan ketika itu aku telah bersama adik-adik. Mengajari mereka betapa berartinya permainan karya lokal. Permainan yang sebagian syarat dengan nilai2 falsafah hidup. Permainan yang mulai tersingkirkan oleh mainan2 produk manca negara.
Dan akan kuucapkan "Selamat datang mainanku yang hilang"
Selasa, 29 Juli 2014
Kacang Tanah Penerang di Akhirat
Ramadhan telah usai. Tapi cerita2 saya tentangnya masih tersisa. Salah satunya tentang zakat fitrah. Disuatu waktu saya disuruh mengantarkan zakat fitrah berupa Jagung kering. Entah berapa kilogram saya tak sempat bertanya atau menimbangnya. Yang pasti untuk tiga orang. Aku, saudaraku dan bapakku sendiri.
Ada satu hal yang membuat mata saya tak berhenti memandang, pikiran saya tergelitik, bertanya2 ketika di atas jagung itu ada kacang tanah yang di tusuk seperti sate. Ada pula uang kertas 20 ribu.
Sejauh yang saya tahu zakat fitrah ialah pemberian berupa makanan pokok keapada orang berhak menerimanya. Saya penasaran mengenai "sate kacang" di atas jagung itu.
Beberapa anggota masyarakat masih memegang tradisi itu sampai saat ini khususnya di desa Moncek Timur.
Saya bertanya kepada orang beberapa orang. Ketika itu ada nenek, paman dan beberapa tetangga. Namun tak ada keterangan yang saya dapatkan kecuali hanya, bahwa penyelipan "sate kacang" itu adalah "lalampan" (indonesia: kebiasaan) orang dulu. Jawaban itu memberi sinyal positif bahwa saya harus menanyakannya kepada orang lanjut usia.
Kebetulan aku teringat, dulu kakek saya juga melakukan hal sama. Bahkan tak hanya "sate kacang". Ada pula penyisipan satu sampai dua batang rokok dalam zakat fitrah.
Lebaran kemaren saya sungkem ke kerumah kakek. Saat ini usianya sudah di atas 70 tahun. Saya tidak tahu umur pastinya sebab ketika saya menanyakannya langsung kakek juga sudah lupa berapa umurnya sekarang.
Siang itu beliau duduk di amben rumah. Alas tikar sudah siap dan beberapa jajan lebaran juga sudah tersedia. Aku yang datang langsung menyalami dan mencium tangannya yang mulai mengkerut. Beberapa saat kemudian, setelah ngobrol santai aku menyempatkan diri bertannya soal itu.
Rumah kakek berhadapan dengan rumah tetangga. Ada banya orang ketika itu termasuk tetangga yang barangkali sudah seusia dengannya.
Kakek menanggapi pertanyaan saya dengan semangat seperti telah mengingatkan pada masa lalunya. Ia menjelaskan ihwal kacang itu. Bahwa "sate kacang" akan menjadi penerang, lampu, sinar kelak di akhirat.
Tidak ada ketentuan mengenai banyaknya kacang atau berapa tusuk kacang itu harus dipasang. Biasanya hanya dua tusuk, dan masing2 tusuk 5-7 kacang.
Kakek menceritakan, penyelipan kacang itu mulai dilakukan belangan. Sebelum kacang memakai "nyamplong" dan buah "kalekeh" (salah satu jenis tanaman yang ada di daerah madura). Namun karena tanaman itu agak sulit ditemukan dan lebih mudah kacang, maka menggunakan kacang dengan fungsi yang sama.
Demikian pula rokok. Ia akan menjadi penerang. Kakek mengatakan, rokok tersebut nantinya akan digunakan, dirokok ketika diakhirat. rokok khusus laki2. Bagi perempuan biasanya menggunakan "napenah".
Perbincangan saya dan kakek tidak berhenti di situ. Saya bertanya tengtang zakat pada zamanya dulu ketika masih muda. Pertanyaan saya menarik perhatian tetangga kakek, rohimah. Karena logat kampung ia biasa dipanggil Rahema. Akhirnya, ia pun merapat bersama kami dan berhasrat untuk bercerita. Termasuk nenek juga ikut kumpul bersama.
Zakat didapat dari hasil pinjaman
Kakek bercerita, zakat pada zaman itu disalurkan kepada kajih. Kyai musolla, kampung.
Zaman dulu berbeda dengan sekarang yang boleh dibilang berkecukupan kalau hanya untuk makan sehari2. Dulu, tidak demikian. Susah dan selalu kekurangan makanan.
Maka untuk memenuhi kewajiban membayar zakat fitrah, orang orang harus pinjam terlebih dahulu. Mereka pinjem ke kajih. Dan pinjaman baru dikembalikan ketika musim panen. Ketika itu orang2 akan berbondong ke rumah kajih untuk membaca niat zakat.
Dengan demikian, kaji pada saat itu memiliki peran ganda. Meminjamkan sekaligus menerima zakat.
Ada juga kajih yang merasa enggan, mikir2 atau berat hati menerima zakat tersebut. Dikarenakan zakat adalah kotoran dari penyucian diri dan harta.
Ada juga kajih yang membagikan hasil kumpulan zakat itu kepada orang2. Kira2 1 kg per orang. Masyarakat yang kekurangan makanan akan merasa senang dengan pemberian itu.
Rokhimah menceritakan, bahwa ada juga zakat yang lansung disalurkan kepada anaknya (keluarganya). Hal ini kurangnya makanan untuk dikonsumsi sendiri. Dari pada disalurkan ke orang lain sementara untuk makan sendiri susah, maka langkah itulah yang diambil karena, menurut penilaian saya, keinginan masyarakat untuk memenuhi kewajiban membayar zakat.
Pejelasan itulah yang saya dapatkan dari kakek dan tetangganya rohimah. Demi mendapatkan informasi tambahan, sesampainyanya di rumah saya kembali menceritakan penjelasan kakek. ketika itu ada nenek (orang tua ibu), paman dan sebagian tetangga.
Nenek membenarkan mengenai kenyataan, membayar zakat dari hasil pinjaman dari kajih, kyai kampung. Usia nenek lebih muda jauh dari kakek dan tetanggannya tadi.
Sayapun mengambil kesimpulan sementara. Kenyataan itu berlangsung puluhan tahun lamanya. Jika usia kakek sekarang 80 tahun maka kejadiannya diperkirakan telah dimulai sejak 10-15 tahun sebelum kemerdekaan. Sebelum itu mungkim memang sudah demikian.
Yang menjadi pertanyaan saya sampai sekarang, mengapa mereka masih memaksa diri untuk membayar zakat fitrah sedangkan untuk dimakan sendiri sudah kekurangan. Salah satu penjelasan yang saya baca, bukankah salah satu kriteria orang wajib membayar zakat adalah memiliki kemampuan? Hanya ada 3 kemungkinan. Pertama, antusias mereka sangat tinggi menjalankan perintah agama. Kedua pemahan mereka yang rendah soal agama. Ketiga, zakit fitrah dijadikan kesempatan oleh para kyai kampung untuk memakmurkan dirinya.
Entahlah. Sejarah telah berlalu. Potret inilah yang hanya bisa saya tangkap hari ini.
Minggu, 27 Juli 2014
Aku Senang Ramadhan Akan Pergi
Ya, bulan yang katanya penuh nikmat, berkah dan ampunan itu sebentar lagi akan selesai. Meninggalkan manusia, bulan, matahari, gemintang dan hampir seluruh semesta alam.
Dan setelah itu Ramadhan akan sulit didengar dari lisan orang2. Masjid mulai sepi. Tak banyak lagi lantunan ayat suci. Tak ada lagi santunan panti asuhan. Tak ada lagi kultum di masjid. Tak ada lagi banyak hal yang biasa dilakukan di bulan ramadhan. Barangkali karena sudah tidak update, bukan momen dan semacamnya termasuk karena ramadhan hanya menjadi momentum saban tahun.
Barangkali berbeda dengan ketika habis menonton hiburan, habis kencan sama pacar atau pula habis ketemu mantan. Ada bayangan yang selalu mengikuti, mendorong untuk keluar menjadi cerita.
Ramadhan hanya menjadi cerita tahunan, kekasih sementara, bahkan selingkuhan yang penuh dengan buaian.
Demikian saya ingin menerjemahkan status teman. Ini tafsir saya. Tanpa kaidah dan metodologi. Berdasar pengalaman dari tahun ke tahun, apa yang saya lihat, saya dengar dan saya alami.
Tak ada peningkatan ibadah bagi saya kecuali mungkin hanya shalat tahajjud karena waktunya berbarengan dengan sahur. Atau mungkin membaca al Qu'ran di masjid karena kebetulan berbarengan dengan apa yang disebut dengan berkah ramadhan. Teh anget, kulak pisang, mie ayam dan jajanan lain yang berjejer dengan al Qur'an. Atau shalat traweh yang enggan karena membuat lelah. Selebihnya ramadhan hanya rasa lapar, haus, dan tidur siang yang sulit untuk dirindukan. Bagaimana mungkin dapat dirindukan sementara di satu sisi saya memang tak suka rasa lapar dan tak senang rasa haus.
Tentang ramadhan mengingatkan manusia akan penderitaan orang miskin. Aku tak pernah merasakan itu kecuali hanya di dengar di kultum masjid dan hilang begitu saja. Paling mujur menjadi selentingan dalam diskusi2 dengan teman. Dirasakan dalam2 dalam hati, atau pernahkah hati terenyuh ketika mengingat sejumlah orang yang kurang makan, lalu berbuat satu hal kecil yang sesuai kenyataan?
Apa yang saya katakan tidak berarti bahwa saya benci ramdhan. Tidak pula saya telah cinta ramadhan. Lebih tepat saya masih menganggap hanya ritual tahunan tanpa makna yang benar bagi hidup saya. Terutama paska ramadhan, aku telah banyak lupa tentangnya. Bagaimana engkau bisa rindu dan begitu sedih dengan perginya ramadhan sementara ia tak lagi engkau perbincangkan setelah lebaran.
Ramadhan bulan nikmat, benar. Ramadhan bulan berkah, betul. Ramadhan bulan ampunan, tidak diragukan. Yang perlu diragukan barangkali adalah hidup saya yang belum punya cinta untuk ramadhan. akupun senang ramadhan ini akan berakhir. Inilah ceritaku. Bagaimana ceritamu yang sesungguhnya?
Catatan Akhir Ramadhan
Muncek Timur, 27 Juli 2014.
Jumat, 25 Juli 2014
Buka Bersama di Bagong Catering
Buka bersama di Bagong catering
Buka bersama di bagong catering
Acara rutin ramadhan bulan akhir
orang proletar hadir
Anak yatim hadir
karyawan hadir
Para undangan hadir
Mencari nikmat bibir
Sebagian menunggu TH-iR
Buka bersama di bagong catering
Ramai bukan main
Di bawah terop neon neon
berjejer
Menerangi wajah lugu dan sayu
Tubuh kering dan kerontang
Dan perut perut buncit jelmaan
kapitalis
buka bersama di bagong catering
Pujian menggema
khutbah agama menggelora
Memasuki lubang2 daun telinga
sang jelata, sang sayu, sang
kerontang dan perut buncit
pemilik tahta.
Pak kyai yang pintar,
Di depan ribuan mata membaca
mantra
Sesekali tertawa menghapus luka
lama
Bulan ramadhan
berkah sementara wajah tak
berdosa
Lebaran tiba, pintu duka kembali
terbuka
Buka bersama di bagong catering
Kita berdoa untuk sesama. Amin
Semarang, 20 juli 2014
Jiwa yang Terpotong
Jiwa yang Terpotong
Satu kata telah kau dengar Sabagai sapa kau aku kenal Lebih dalam Lebih nyaman Dalam bingkai janur anyam
Inilah aku dan jiwa yang terpotong Mengajimu dalam ruang tanpa waktu dalam huruf tanpa harkat Dengan burung tanpa sayap, aku tertatih dalam terbang penuh khayal
Dalam kebisuan kau tumpahkan keganasan
Kita saling tahu tapi tidak saling sapa, saling sapa tapi tidak saling senda, saling senda tapi dalam dusta
Dan dalam dusta aku ridho. Bukankah engkau dan aku percaya Bahwa senja belum menua
kita pun akan sama tahu, dalam tawa atau derita.
Telahku kehilangan kata Dan makna dari berita Tentangmu yang belum diraba
Aku terdiam di kediaman yang sama.
Semarang, 20 juli 2014
