Disinilah orang orang itu harus singgah terlebih dahulu untuk melanjutkan perjalanan dari daerah ke daerah, dari satu kota ke kota lain, dari desa ke kota atau dari kota ke desa. Bus bus berjejer sesuai rute perjalanan. Para pendatang hilir mudik tanpa peduli siapapun kecuali maksud yang hendak dituju sejak keluar halaman rumah. Sebagian tampak lihai tanpa peduli beberapa orang yang menyapa.
Bagi sebagian yang blum berpengalaman ia akan tampak bingung. Ternyata rekaan yang diangankan sebelumnya tak sesempit apa yang dipikirkan. Ini juga yang memberi peluang bagi orang malas bekerja keras untuk memanfaatkan kesempatan, menipu. Calo2 berkeliaran di setiap tempat macam ini. Biasanya pura2 berperan sebagai dewa penolong. Mengatasi kebingungan pendatang, menjadi penunjuk arah, menawarkan jasa secara paksa.
Para pegang asongan juga sibuk menawarkan dagangan. Mulai dari penjual es, kopi, buah, jajanan ringan, tasbih, dmpet, peci, kaos dan lain lain.
Para pengamen sibuk memetik gitar. Mulai dari yang suara fals sampai suara lembut. Mulai yang berpenampilan urakan sampai yang berpenampilan mecing.
Pesona terminal Bungurasih tak banyak berubah secara sosial, sejak aku mulai mengenalnya beberapa tahun silam. Hanya beberapa tempat yang mulai di renovasi, dipoles, dibangun, dipercantik agar tanpak menor seperti wanita2 yang tak sidikit dapat dijumpai di berbagai tempat. Ketika saya singgah di tempat ini selalu ada perubahan di bidang infrastruktur.
Tak tampak perubahan secara sosial. Semacam keramahan lingkungan. Senyum manis dari para pelayan seperti di mall2. Tak jarang pada ribut menawarkan jasa. Setiap beberapa langkah selalu ada pertanyaan yang di ulang2 oleh orang yang berbeda. Bahkan tak segan memaksa tanpa tau keinginan para pengunjung.
Ingatanku melompat ke satu waktu beberapa tahun silam, ketika sesorang memaksa saya untuk menaiki bisnya. Aku sempat mau ribut lantaran tak suka dipaksa. Dan Ketika itu, aku dan beberapa orang teman masih hendak menikmati pesona terminal, menyaksikan lalu lalang para pengunjung. Tapi tiba orang itu menarik narik lenganku. Aku melepas tarikannya. Ia tampak emosi. Lekas2 pula aku menghindar.
Beberapa tahun sebelumya tiba2 tiba ada orang yang sok baik menawarkan jasa. Ia merayu dan menjanjikan fasilitas yang memuaskan. Aku yang belum tahu apa2 hampir saja tertipu, setelah tahu ongkos yang harus dibayar harus berlipat dari biasanya.
Terminal memang selalu demikian. Dipenuhi sampah2 masyarakat. Di penuhi kemunafikan. Dipenuhi kebiadaban. Pintar2 para pengunjung harus bersikap. Agak smbong lebih pantas. Sok tahu lebih baik. Demi menghidari kejahan.
Surabaya, 23 Juli 2014
Jumat, 25 Juli 2014
Mudikku Ke Kampung Halaman
Catatan pagi di atas bis, 23 Juli 2014
Akhirnya mudikpun terlakasa. Saat ini Aku dan temenku Hasan sudah menuju surabaya. Bis yang kami tumpangi start jam 08.53 wib dari lapangan Kali Sari Semarang.
Berbeda dengan tahun lalu, mudik kali ini tanpa mengeluarkan biaya kecuali sedikit. Untuk mengurangi angka kecelakaan, PT Jasa Raharja menyediakan mudik gratis bagi masyarakat yang ingin pulang ke kampung halaman. Jasa raharja menyediakan ribuan tiket ke 27 kota di jawa timur dan jawa barat.
Program ini bersekala nasional, tak hanya di jawa tengah. Ada sekitar 27 ribu tiket yang disediakan di seluruh Indonesia. Di jawa tengah pemudik yang ikut program ini hanya 500 orang. Akhirnya bis yang kami tumpangi hanya berisi 13 orang termasuk anak kecil, bapak2, ibu2, mas mas dan mbak2. Bis yang ditumpangi temenku tujuan blitar justru lebih sedikit, tak lebih dari 10 orang.
Secara perhitungan rugi. Ada banyak kursi yang mubadzir. Tidak bermanfaat. Entah karena sosialisasi kurang, para pemudik sedikit, atau para pemudik sudah tidak tertarik dengan program gratis. Sehingga pendaftar program ini tidak melebihi target yang diinginkan PT Jasa Raharja.
Aku duduk di kursi nomer 5 dari depan. Di samping kananku hasan tanpak menikmati musik yang di putar di depan. Judulnya "Sehidup semati", dinyanyikan oleh Didi Kempot.
"cinta kita tak perpisahkan walau di akhir zaman" demikian salah satu kutipan liriknnya.
Sungguh lagu yang sangat romantis dan menyentuh. Tentang kesetiaan. Akupun menikmatinya. Suasanya di atas bis menambah kenikmatan. Lagunya agak melo.
Ah, Aku jadi kasian pada orang di depanku. Dia mesti tak menikmati indah lagu itu. Kulihat ia tertidur pulas padahal bis baru saja berangkat. Sekitar setengah jam yang lalu. Atau jangan2 ia lebih menikmati dari pada aku hingga ia sampai tertidur? Kalau begitu aku kalah berarti dalam soal nikmat menikmati.
Aku masih dalam diam, duduk dengan lutut ditekuk. Kulihat bunyi plastik dari arah kiri. Ah, ternya tante2 lagi menikmati roti. Aku jadi teringat roti yang ada di tas.
"sabar ya roti. Nanti kalau sudah adzan magrib kamu pasti kuhajar juga"
Tante berkacamata itu tidak puasa. Barangkali saja ia non muslim. Atau mungkin karena perjalanan jauh, demi menjaga kesehatan. Mungkin saja.
Ternyata ada aneka ragam orang di dalam bis ini. Namun demikian kami punya tujuan yang sama. Keselamatan sampai tempat tujuan
"subhanalladzi sakhhoro lana hadza wama kunnaa lahuu mukriniin"
Akhirnya mudikpun terlakasa. Saat ini Aku dan temenku Hasan sudah menuju surabaya. Bis yang kami tumpangi start jam 08.53 wib dari lapangan Kali Sari Semarang.
Berbeda dengan tahun lalu, mudik kali ini tanpa mengeluarkan biaya kecuali sedikit. Untuk mengurangi angka kecelakaan, PT Jasa Raharja menyediakan mudik gratis bagi masyarakat yang ingin pulang ke kampung halaman. Jasa raharja menyediakan ribuan tiket ke 27 kota di jawa timur dan jawa barat.
Program ini bersekala nasional, tak hanya di jawa tengah. Ada sekitar 27 ribu tiket yang disediakan di seluruh Indonesia. Di jawa tengah pemudik yang ikut program ini hanya 500 orang. Akhirnya bis yang kami tumpangi hanya berisi 13 orang termasuk anak kecil, bapak2, ibu2, mas mas dan mbak2. Bis yang ditumpangi temenku tujuan blitar justru lebih sedikit, tak lebih dari 10 orang.
Secara perhitungan rugi. Ada banyak kursi yang mubadzir. Tidak bermanfaat. Entah karena sosialisasi kurang, para pemudik sedikit, atau para pemudik sudah tidak tertarik dengan program gratis. Sehingga pendaftar program ini tidak melebihi target yang diinginkan PT Jasa Raharja.
Aku duduk di kursi nomer 5 dari depan. Di samping kananku hasan tanpak menikmati musik yang di putar di depan. Judulnya "Sehidup semati", dinyanyikan oleh Didi Kempot.
"cinta kita tak perpisahkan walau di akhir zaman" demikian salah satu kutipan liriknnya.
Sungguh lagu yang sangat romantis dan menyentuh. Tentang kesetiaan. Akupun menikmatinya. Suasanya di atas bis menambah kenikmatan. Lagunya agak melo.
Ah, Aku jadi kasian pada orang di depanku. Dia mesti tak menikmati indah lagu itu. Kulihat ia tertidur pulas padahal bis baru saja berangkat. Sekitar setengah jam yang lalu. Atau jangan2 ia lebih menikmati dari pada aku hingga ia sampai tertidur? Kalau begitu aku kalah berarti dalam soal nikmat menikmati.
Aku masih dalam diam, duduk dengan lutut ditekuk. Kulihat bunyi plastik dari arah kiri. Ah, ternya tante2 lagi menikmati roti. Aku jadi teringat roti yang ada di tas.
"sabar ya roti. Nanti kalau sudah adzan magrib kamu pasti kuhajar juga"
Tante berkacamata itu tidak puasa. Barangkali saja ia non muslim. Atau mungkin karena perjalanan jauh, demi menjaga kesehatan. Mungkin saja.
Ternyata ada aneka ragam orang di dalam bis ini. Namun demikian kami punya tujuan yang sama. Keselamatan sampai tempat tujuan
"subhanalladzi sakhhoro lana hadza wama kunnaa lahuu mukriniin"
Selamat Malam Madura
Selamat Malam Madura
Malam terakhir menjelang mudik. Menikmati kopi Cappo Cino di sebuah kafe mini di daerah Ngaliyan. Kafe Pakde Ikan. Terletak di sebuah perumahan di BPI. Aku, Hasan dan Badrun. Kami berkumpul tanpa ada maksud dan tujuan serius. Menikmati malam terakhir saja.
Tak banyak orang malam ini. Tak seperti biasanya. Hanya 2 orang laki2 di samping kiri.
Seperti, tempat ini memang terkhusus untuk kami.
Di pojok bagian depan ada dua orang wanita tengah membincangkan sesuatu. Satu wanita tak lain penjaga kafe. Seperti biasa, ia tampil dengan kacamata. Cantik dan tubuhnya seksi. Rambutnya lurus tanpa tutup kepala. Sesekali ia memainkan gelas plastik di depannya. Dia mesti tak tahu kalau di depannya, agak nyamping, aku memasukkan dia dalam catatan ini. Akupun tak memberitahunya.
Di belakang kami dua wanita. Ia juga penjaga kafe. Tak jelas apa yang mereka lakukan. Hanya sesekali terdengar tawanya, menyumbang bunyi tempat ini.
Kami kawan seperjuangan memang selalu berkumpul. Tak menunggu agenda penting. Bahkan kami menganggap ada yang lebih penting dari kebersamaan. Kebersamaan yang natural. Ia akan membentuk ikatan emosional, solidaritas yang tinggi. Tak sekadar formalitas atau hubungan profesi.
Kami anak rantau mencintai kampung halaman. Merindukan saudara-saudara. Mencitai kalian semua, madura. Besok pagi sapaku padamu akan sampai untuk kesekian kali sejak aku di sini, Semarang. Peluk dan dekaplah kami dengan hangat agar cinta ini tak pernah mengurang. Rindu kami tak pernah pupus dan harapanmu suatu saat akan terwujud.
Selamat malam tanah
Selamat malam pohon
Selamat malam laut
Selamat malam garam
Selamat malam tembakau
Selamat malam ladang
Selama malam jalan
Selamat malam warung kopi
Selamat malam bapak tani
Selama malam pedagang
Selamat malam bajingan
Selamat malam pak kyai
Selamat malam pak ustad
Selamat gedung
Selamat malam bangunan2
Selamat malam musolla
Selamat malam Madura
Selamat malam. Selamat malam Sampai pagi. Kita akan berada dalam kebersaman dalam banyak waktu.
Semarang, 22 Juli 2014
Malam terakhir menjelang mudik. Menikmati kopi Cappo Cino di sebuah kafe mini di daerah Ngaliyan. Kafe Pakde Ikan. Terletak di sebuah perumahan di BPI. Aku, Hasan dan Badrun. Kami berkumpul tanpa ada maksud dan tujuan serius. Menikmati malam terakhir saja.
Tak banyak orang malam ini. Tak seperti biasanya. Hanya 2 orang laki2 di samping kiri.
Seperti, tempat ini memang terkhusus untuk kami.
Di pojok bagian depan ada dua orang wanita tengah membincangkan sesuatu. Satu wanita tak lain penjaga kafe. Seperti biasa, ia tampil dengan kacamata. Cantik dan tubuhnya seksi. Rambutnya lurus tanpa tutup kepala. Sesekali ia memainkan gelas plastik di depannya. Dia mesti tak tahu kalau di depannya, agak nyamping, aku memasukkan dia dalam catatan ini. Akupun tak memberitahunya.
Di belakang kami dua wanita. Ia juga penjaga kafe. Tak jelas apa yang mereka lakukan. Hanya sesekali terdengar tawanya, menyumbang bunyi tempat ini.
Kami kawan seperjuangan memang selalu berkumpul. Tak menunggu agenda penting. Bahkan kami menganggap ada yang lebih penting dari kebersamaan. Kebersamaan yang natural. Ia akan membentuk ikatan emosional, solidaritas yang tinggi. Tak sekadar formalitas atau hubungan profesi.
Kami anak rantau mencintai kampung halaman. Merindukan saudara-saudara. Mencitai kalian semua, madura. Besok pagi sapaku padamu akan sampai untuk kesekian kali sejak aku di sini, Semarang. Peluk dan dekaplah kami dengan hangat agar cinta ini tak pernah mengurang. Rindu kami tak pernah pupus dan harapanmu suatu saat akan terwujud.
Selamat malam tanah
Selamat malam pohon
Selamat malam laut
Selamat malam garam
Selamat malam tembakau
Selamat malam ladang
Selama malam jalan
Selamat malam warung kopi
Selamat malam bapak tani
Selama malam pedagang
Selamat malam bajingan
Selamat malam pak kyai
Selamat malam pak ustad
Selamat gedung
Selamat malam bangunan2
Selamat malam musolla
Selamat malam Madura
Selamat malam. Selamat malam Sampai pagi. Kita akan berada dalam kebersaman dalam banyak waktu.
Semarang, 22 Juli 2014
Selasa, 08 Juli 2014
Perempuan Romantis, Sepucuk Surat yang Perlu Engkau Tahu
Semarang, 06 Juli 2014
Perempuanku,
Sejak engkau mulai merasakan segarnya udara di dunia
Telah kau tentukan pula keinginan dan kemauan
tentang hidup yang sejatinya.
tentang hidup yang sejatinya.
Hidup sebagai fitrah bahwa engkau adalah wanita yang berhak diperlakukan dengan adil dan nyaman hingga engkau merasa senang.
Engkau inginkan romantisme hidup,
Engkau inginkan pula pujian dan manjaan.
Engkau inginkan mentari,
dan sinarnya menghangatkanmu kala siang datang,
Dan bulan,
menjadi penyejuk badanmu kala malam mulai terlentang
Engkau inginkan pula pujian dan manjaan.
Engkau inginkan mentari,
dan sinarnya menghangatkanmu kala siang datang,
Dan bulan,
menjadi penyejuk badanmu kala malam mulai terlentang
Kau inginkan lelaki,
yang dapat memperlakukanmu seperti hiasan berharga
Dan engkau rindukan pula sosok pasangan yang selalu mengerti setiap keinginanmu.
Perempuanku,
Perlu engkau tahu bahwa hidup adalah tantangan
Perlu engkau tahu bahwa hidup adalah tantangan
Mentari pagi tak mesti memberi hangat dan rembulan tak selalu indah menghias malam.
Begitupun alam.
Ia akan memaksamu untuk berubah, bergantung dimana engkau hidup
dan di titik bumi bagian mana bapak-ibumu melahirkan.
Ia akan memaksamu untuk berubah, bergantung dimana engkau hidup
dan di titik bumi bagian mana bapak-ibumu melahirkan.
Sewaktu-sewaktu engkau akan dirubah oleh waktu,
lingkungan dan keadaan.
lingkungan dan keadaan.
Engkau bisa sangat mudah mengeluarkan kata kotor dan tabu,
yang tak sedap untuk diperdengarkan.
yang tak sedap untuk diperdengarkan.
Engkau bisa saja menjadi sangat keras,
dan berfikir lebih panjang untuk masa depan,
dan engkau pun mempersiapkaanya jauh-jauh hari untuk benteng penjaga
dan berfikir lebih panjang untuk masa depan,
dan engkau pun mempersiapkaanya jauh-jauh hari untuk benteng penjaga
Bisa pula engkau selalu bergonta-ganti pasangan
untuk kau jajaki demi kau cari sebuah kesetiaan.
untuk kau jajaki demi kau cari sebuah kesetiaan.
Ketika itu,
engkau akan tunduk dan pasrah setelah pada lelaki yang mengerti mimpi-mimpimu manis, yang kau inginkan
engkau akan tunduk dan pasrah setelah pada lelaki yang mengerti mimpi-mimpimu manis, yang kau inginkan
Perempuaku,
Lewat sepucuk surat ini kukabarkan
Lewat sepucuk surat ini kukabarkan
Bahwa waktu, lingkungan, dan keadaan tak mendidikmu begitu keras dan panas
Engkau pun kokoh dengan fitrahmu, menjadi wanita lembut, santun dan anggun,
Engkau pun kokoh dengan fitrahmu, menjadi wanita lembut, santun dan anggun,
tanpa kata kotor,
tanpa hasrat sekadar coba-coba dalam hubungan,
walau di satu sisi kau bersikap lebih pasrah atas masa depan
tanpa hasrat sekadar coba-coba dalam hubungan,
walau di satu sisi kau bersikap lebih pasrah atas masa depan
Engkau sopan dalam laku,
santun dalam tutur, dan
sederhana dalam hidup, tak suka bersolek ala waniti masa kini:
santun dalam tutur, dan
sederhana dalam hidup, tak suka bersolek ala waniti masa kini:
yang berlebihan,
yang suka menghias tubuh dengan gaun-gaun anggun,
yang memoles kedua pipi dengan bedak-bedak kelas elite,
yang memamerkan jari lentikknya dengan cat, dan
yang selalu membasahi bibir dengan lipstik yang tak begitu kentara
agar terlihat sangat manis.
yang suka menghias tubuh dengan gaun-gaun anggun,
yang memoles kedua pipi dengan bedak-bedak kelas elite,
yang memamerkan jari lentikknya dengan cat, dan
yang selalu membasahi bibir dengan lipstik yang tak begitu kentara
agar terlihat sangat manis.
Engkau adalah wanita sederhana tanpa tampilan berlebih,
yang selalu bermimpi tentang lelaki sempurna,
yang datang secara alami atau engkau sendiri yang menyiptanya.
yang selalu bermimpi tentang lelaki sempurna,
yang datang secara alami atau engkau sendiri yang menyiptanya.
Perempuanku,
Kerinduamu tentang lelaki punjaan adalah mimpimu setiap malam
Kerinduamu tentang lelaki punjaan adalah mimpimu setiap malam
Hingga ketika siang menyambang,
engkau selalu melihat pada setiap lelaki yang kau temui.
engkau selalu melihat pada setiap lelaki yang kau temui.
Tentang lelaki sempurna,
tentang lelaki romantis,
tentang lelaki tangguh yang tak mudah mengeluh atas lakumu,
tentang lelaki tegas yang dapat melindungimu,
tentang lelaki tegas yang membuat engkau aman dari mara bahaya, dan
tentang lelaki yang dapat mengerti apa yang engkau ingin dan tidak engkau ingin di setiap masa yang tak pernah berhenti berjalan.
tentang lelaki romantis,
tentang lelaki tangguh yang tak mudah mengeluh atas lakumu,
tentang lelaki tegas yang dapat melindungimu,
tentang lelaki tegas yang membuat engkau aman dari mara bahaya, dan
tentang lelaki yang dapat mengerti apa yang engkau ingin dan tidak engkau ingin di setiap masa yang tak pernah berhenti berjalan.
Perempuanku,
Kukabarkan kepadamu
Lelaki seberang kemaren sore,
di bawah lampu neon yang redup, di belakang tempatmu duduk ketika itu
Kukabarkan kepadamu
Lelaki seberang kemaren sore,
di bawah lampu neon yang redup, di belakang tempatmu duduk ketika itu
Seorang gembala kuat yang satiap hari menggendong luka,
luka lama tinggalan kekasihnya yang telah berdusta
luka lama tinggalan kekasihnya yang telah berdusta
Dia sederhana,
tidak suka berpura-pura, dan
tidak terlalu berlebihan untuk meminta perhatian.
tidak terlalu berlebihan untuk meminta perhatian.
Aku ingin berbisik dan kukabarkan padamu, bahwa ia telah tahu banyak hal tentangmu:
bahwa engkau lebih suka dengan keadaan yang tenang di setiap kesempatan,
bahwa engkau senang mendapat masukan hangat atas sesuatu yang kurang baik yang engkau kenakan dan kerjakan,
bahwa engkau senang mendapat masukan hangat atas sesuatu yang kurang baik yang engkau kenakan dan kerjakan,
bahwa engkau dengannya banyak persamaan,
bahwa engkau tak suka main-main dengan hubungan,
bahwa engkau tak tertarik jika dipuji terlalu berlebihan,
bahwa engkau lebih suka ketulusan dari pada tekanan,
bahwa engkau lebih suka kepribadian dari pada penampilan,
bahwa engkau butuh perlindungan,
bahwa engkau butuh ketegasan,
bahwa engkau tak suka main-main dengan hubungan,
bahwa engkau tak tertarik jika dipuji terlalu berlebihan,
bahwa engkau lebih suka ketulusan dari pada tekanan,
bahwa engkau lebih suka kepribadian dari pada penampilan,
bahwa engkau butuh perlindungan,
bahwa engkau butuh ketegasan,
Dia juga tahu,
bahwa engkau adalah wanita romantis
yang dapat menyembuhkan luka dalam sejak masa silam
Sabtu, 21 Juni 2014
Ketidakadilan Lain Di Laundry Asri
Catatan Minggu 22 Juni 2014
Namun, ini tidak sesuai dengan kenyaataan di lapangan. Saya tahu persis karena biasanya uang makan untuk teman saya ditipkan ke saya. Saya yang memberikan langsung kepadanya, seringkali hanya 5 ribu rupiah perhari.
Ketika teman saya protes dan bertanya kepada pemilik perusahaan itu mengenai uang makan, pemilik perusaahan itu berdalih, bahwa uang makan sebesar 10 ribu kalau ada kerja pada malam hari. Kalau tidak ada kerjaan maka uang makan hanya 5 ribu rupiah. sedangkan teman saya itu masih harus menjaga laundry sampai malam hari, berjaga-jaga takut ada pekerjaan.
Selain ketidakadilan mengenai potongan gaji kepada saya, ketidakadilan juga terjadi pada teman saya M. Syahid. Tapi alangkah malangnya lelaki paruh baya itu yang tidak sadar bahwa ia telah diperlakukan tidak adil. Ceritanya begini:
Sistem kerja di Laundry Asri 12 jam kerja dari jam 08.00-20.00 WIB dengan gaji pokok 750 ribu per bulan. Ditambah uang makan per hari sebesar 10 ribu. Ada siff pagi-sore ada siff siang-malam. jika bekerja mengambil satu siff maka perhitungan gaji perjam dengan hitungan 3000 per jam minimal delapan jam kerja. Biasanya, pekerjaan paling sering di siff siang sementara siff malam jarang. Keterangan ini saya peroleh ketika wawancara kerja. Saya bekerja hanya mengambil satu siff, siff pagi sampai sore. Sedangkan teman saya kerja full dari pagi sampai malam hari. Saya mendapat uang makan separuh karena hanya mengambil satu sifft. Sedangkan teman saya, karena mengambil kerja penuh, seharusnya medapat uang makan 10 ribu perhari.
Namun, ini tidak sesuai dengan kenyaataan di lapangan. Saya tahu persis karena biasanya uang makan untuk teman saya ditipkan ke saya. Saya yang memberikan langsung kepadanya, seringkali hanya 5 ribu rupiah perhari.
Ketika teman saya protes dan bertanya kepada pemilik perusahaan itu mengenai uang makan, pemilik perusaahan itu berdalih, bahwa uang makan sebesar 10 ribu kalau ada kerja pada malam hari. Kalau tidak ada kerjaan maka uang makan hanya 5 ribu rupiah. sedangkan teman saya itu masih harus menjaga laundry sampai malam hari, berjaga-jaga takut ada pekerjaan.
Sekilas, ini masuk akal karena memang pada malam hari tidak ada kerjaan. Tapi ini tidak adil. Teman saya itu sudah dikontrak untuk menjaga laudry sampa malam hari. Seharusnya, hitungan tidak pada seberapa besar bekerja tapi pada waktu yang telah dibuang untuk menjaga Laundry itu. jadi sekalipun, tidak ada kerjaan ia harus mendapatkan hak uang makan itu sebesar 10 ribu karena telah menjaga laundrynya.
Menjaga laundry karena takut ada pelanggan itu adalah kerjaan karena telah mengabdikan diri, membuang waktu untuk menjaga itu. Jadi, seharusnya ia juga mendapat uang makan. Tapi teman saya itu mungkin tidak berfikir kesana. Ia mau saja diperlakukan seperti itu. saya tidak menyalahkan dia, karena mungkin dari usianya yang sudah tua sehingga ia tidak berfikiran ke sana. Seharusnya, yang lebih mengeti ini adalah pemilik Laudry itu. tapi ia tidak mengerti atau sebaliknya ia memang mengerti dan sengaja melakukan itu. Ini namanya ketidakadilan. Lebih tepatnya kesewenang-wenangan seorang bos.
Sekali ini, pembicaraan saya ini bukan soal rupiah yang sangat kecil. Tapi soal perlakuakn adil dan penghargaan terhadap hak-hak seseorang.
Sepenggal Cerita Kerja Di Laundry
Catatan Sabtu, 31 Mei 2014 (11:52 WIB)
Akhir dari semuanya kukatakan: “Bekerja sendiri dengan hasil yang pas-pasan lebih baik dari bekerja kepada orang lain walau dibayar dengan sangat mahal. Lebih baik kita membeli waktu dari pada waktu kita yang dibeli untuk menjadi budak orang lain. Jadilah pembisnis yang handal jika ingin hidup nyaman!”
Hari sabtu tanggal 31 Mei 2014 adalah hari terakhirku kerja di Laundry Asri yang beralamat di Ruko bringin Hil Estate no 2 jalan raya Bringin Tambak Aji Ngaliyan Semarang. Tampat Kerjaku di salah satu cabangnya, Hotel Dafam Jalan Imam Bonjol Semarang. Setelah 31 satu hari kerja dipotong hari libur pada tanggal 17 dan 20 aku memutuskan untuk berhenti kerja karena beberapa hal: pertama, aku ingin menyelasaikan proposal skripsi yang sudah beberapa minggu mangkrak lantaran fokus kerja. Aku punya target, bulan ini, Juni 2014, proposalku sudah harus selesai dan diujikan. Penelitianku bertempat di di desa Muncek Timur lenteng Sumenep Madura, tempat kelahiranku. Sehingga liburan puasa mendatang penelitianku tentang “Bentukan Etika Sosial Bagi Kriminal, Studi Kasus Kumpulan Jamiyyah Walisongo di Desa Muncek Timur” sudah bisa berjalan. Jika tak berhenti kerja, kecil kemungkinan aku menyelesaikannya karena terkendala waktu. Tak ada kesempatan mencari refrensi buku di perpustakaan.
Kedua, bulan April lalu telah kusetujui menjadi bagian dari Tim redaksi pembutan buku kenang-kenangan fakultas Ushuluddin. Proposal sudah dibuat, job sudah dibagi oleh ketua tim. Tinggal melangkah. Hanya saja, karena bulan Mei aku fokus bekerja, maka sampai saat ini aku belum ikut membantu sama sekali. Semoga, dengan resendnya aku dari tempat kerja masih bisa ambil bagian untuk mesukseskan buku tersebut.
Ketiga, bekerja fulltime pada masa-masa kuliah ternyata tidak enak. Ada yang selalu terfikirkan, entah merindukan kampus di siang hari, merindukan kawan di siang hari dan merindukan segalanya di siang hari. Bekerja disiang hari telah menghalangiku untuk itu. Ada kebahagian dan kelegaan tersendiri setelah kuputuskan untuk berhenti, membiarkan diri bergerak bebas sesuka hati, tidak terkekang oleh tanggung jawab kerja.
Namun demikian, banyak pengalaman yang kudapat selama bekerja. Mulai dari menyentuh hal-hal baru sampai pada keadaan penuh tekanan karena dimarahi oleh pemiliknya. Adu argumen dengan bos pernah dan membuat kesalahan ditempat kerja juga pernah. Yang masih kuingat dan masih lekat dibenak sampai saat ini dan mungkin tak akan pernah terlupakan adalah ketika aku beberapa kali harus adu mulut karena ada ketidaksepahaman.
Dedi Triputra adalah pemilik Laundry Asri. Istrinya bernamaTina. Dedi adalah sarjana komputer lulusan Perguruan Tinggi STIKUBANK Semarang. Ia Juga penulis buku “Most Wanted Interpreneour” dan buku tentang Laundry yang aku lupa judul bukunya. Sedangkan istrinya sarjana Menejemen lulusan perguruan tinggi yang sama.
Bagi saya, ada perbedaan yang sangat signifikan antara Dedi dan Tina terutama dalam karakter. Dedi lebih santai dan selalu menghadapi masalah dengan kepala dingin. Sedangkan Tina lebih memakai emosional, crewet dan agak judes. Ini terlihat dari beberapa pengalaman selama satu bulan aku bekerja. Saya jadi berfikir, bahwa di dunia ini memang tak ada yang sempurna. Selalu ada kelebihan dan kekurang di setiap hal. Bagi Dedi, mungkin sudah biasa dan tidak kaget berhubungan dengan Tina. Hingga apapun yang barangkali menurut orang lain tak enak, bagi Dedi enak-enak saja. Mengerti karakter dan mengerti segalanya tentang Tina. Tapi menjadi lain ketika aku yang berhadapan dengan Tina. Selain karena pengelaman sempat cekcok dengan dia, dari raut wajahnya sudah bisa ditebak mengenai karakternya. Ini diperkuat salah seorang teman melihat Tina ketia ia mengantarkanku ke rukonya di Bringin. “Dia orangnya enakannya?” tanya dengan nada meragukan. Dari sana aku juga mulai menilai bahwa raut wajahnya sangat menggambarkan karakternya yang bengis.
Beberapa hari kerja, pengalaman yang kurang mengenakkan kualami. Ada beberapa rentetan kejadian yang akan kuceritakan di sini. Pertama, peristiwa cucian pakian yang kurang kering. Tina marah membuktikan dugaanku dan temanku mengenai kebengisannya. Sedangkan dedi tak banyak komentar, sedikit tapi membuatku lebih segan dari pada tina. Dedi memaklumi atas kejadian itu. ia tau posisi kalau aku dan temanku M Sahid masih baru bekerja dan belum berpengalaman. Aku memakluminya lantaran masih baru dan belum tahu Standar Operasional. Dan ketika masa training pun tak ada penjelasan mengenai tetek bengek sistem kerja Loudry. Bahkan, aku beranggapan bahwa training selama tiga hari itu bukan training. Melainkan syarat, agar kita bisa diterima kerja, maka harus bekerja tanpa dibayar.
Kedua, ihwal cucian yang tidak kering lagi. Tina marah dengan amat sangat. Dia seolah tak menggubris dan tidak percaya pada apa yang kusampaikan. Jelas, aku tak bisa menerimanya. terjadilah adu mulut. Kubantah semua pembicaraannya yang hampir membuat telingaku budek. Kujelaskan padanya cucian yang tak kering itu hasil kerja rekanku M Sahid. Bukan hasil kerjaku sama sekali. Tapi ia tetap tidak mau kalah karena ketika M sahid ditanya juga tidak mengakui bahwa itu hasil kerjanya. Padahal sangat jelas bahwa hari itu aku kebagian job nyetrika. Mulai saat itulah, melihat aku yang selalu membantah perkataaanya, ia selalu menampakan wajah judes dan kurang sedap dipandang ketika aku tiba ditempat kerja. Hari hari berlalu dengan suasana yang agak menegangkan kecuali setelah akhir-akhir bulan. Mungkin saja ia mulai faham karakterku yang keras dan selalu transparan.
Ketiga, masalah motor. Sebagaimana informasi lowongan kerja yang kudapat di internet, bahwa selain mendapat uang makan, gaji dan tempat tinggal, karyawan akan mendapat fasilitas kendaraan. Kebetulan, pada suatu hari Dedi ingin bepergian menggunakan motor. Setelah mengantarku ketempat kerja di Hotel Dafam ia pergi dan tak kembali hingga sore hari sampai waktu aku harus pulang. Aku jengkel karena tak dijemput. Aku menghubunginya, ia lantas menyuruhku naik angkot. Dan aku kurang sepakat jika setiap hari harus naik angkot. Disamping banyak lebih banyak mengeluarkan biaya, tidak sesuai dengan ketentuan Iklan yang ada.
Keesokan harinya, aku mempertegas masalah fasilitas motor. Tina menjawab, bahwa tak ada fasilitas motor secara pribadi. Motor tersebut hanya untuk tim. Ia lantas menyalahkannku karena dikira, aku tak ada inisiatif untuk pulang sendiri padahal aku tahu bahwa Dedi lagi ada urusan di luar. Sebenarnya aku bukan tak punya inisiatif. Hanya ingin memperjelas masalah fasilitas yang dijanjikan. Ini juga menjadi akan pertimbangan, bahwa aku akan lanjut kerja atau berhenti karena tidak sesuai dengan yang ada di iklan.
Beberapa menit adu argumentasi, kutegaskan sekali lagi “Aku pergi tanpa motor, langsung ketempat kerja di hotel Dafam atau aku ke bringin terlebih dahulu untuk mengambil motor sekaligus membawa cucian dari sana”. Akhirnya, diputuskan aku harus ke Laudry Bringin dahulu untuk menggunakan motor, kecuali suatu saat motornya mau dipakai. Akan diinformasikan lebih lanjut, katanya.
Keempat, masih di permasalahan motor. Kembali aku dibuat jengkel oleh Tina. Suatu hari setelah aku tiba di Bringin motor masih dipakai oleh Tina. Bersama Dedi aku menunggu sambil berbincang santai di sana. Tak ada instruksi bahwa aku harus berangkat naik angkot. Beberapa menit kemudian, Tina datang dengan motornya dan ngomel tidak jelas, lantaran aku masih menunggu motor yang dipakainya. “Sesuai kesepakatan bagaimana, bagaimana aku mau pergi naik angkot sedangkan tak ada informasi jika motornya mau dipakai. Pun tak ada intruksi dari Dedi agar aku berangkat naik anggkot. Masak iya aku nyelonong sembarangan padahal tak ada intruksi,” pikirku jengkel. Hari itu aku lagi malas berdebat. Ku bairkan saja ia ngomel tidak jelas. Wajahnya yang sinis membuat pemandangan kembali tidak menarik. Menggrutu seolah tanpa dosa dan tanpa pikir.
Kelima, masalah parfum yang terlalu boros. Sama seperti di atas, tak ada training cara pemakaian parfum. Aku bekerja dengan caraku sendiri dan sebenarnya ingin memberikan yang terbaik untuk perusahaan. Eh salah lagi, karena parfumnya cepat habis. Padahal, sebelumnya juga sudah ada teguran kalau pakainnya kurang wangi (alias kurang parfum). Trus gue harus bagaimanaaa. Sampai-sampai kupraktekkan caraku memberi parfum. Alhasil, ia tak percaya. “Kalau begitu tidak mungkin parfumnya boros,” katanya. Aku bingung harus menjelaskan bagaimana.
Keenam, pekerjaan mengeringkan pakaian tidak selesai. seharusnya sudah selesai, katanya. Kujelaskan apa yang telah kulakukan. Pengeringan ada pekerjaan mesin, bukan pekerjaanku. Kalau mesinnya tidak bisa mengeringkan dengan cepat kenapa aku yang disalahkan. Kujelaskan padanya berulang-ulang. Ia masih tadak menerima alasan-alasaku. Yang kuinginkan hanya bagaimana mengeringkan pakain dengan sangat cepat. Ia lantai berbicara menejemen waktu. Aku bingung menerimanya. Karena tak ada hubungan antara mesin dan menejemen waktu dalam kontek ini.
Akhirnya, hari itu, kukemukaan semua unek- unek yang mengganjal di kepala. Tentang ketidaknyamanan, tentang tekanan dan tentang kebosanan selalu mendengar ceramahnya. Aku lebih suka diajari apa yang tidak kuketahui dari pada harus dimarahi tidak jelas. Ia lantas mengatakan, bahwa apa yang ia lakukan adalah proses pembelajaran. “Ya, pembelajaran”pikirku. Pembelajaran yang tidak menyenangkan. Siapapun akan tidak suka dengan pembelajaran demikian.
Setelah kubantah, dia kapok dan berkata tidak akan mengajaiku lagi. semuanya akan dipasrahkan pada Dedi “Ya, alhamdulillah. Lebih baik aku tak diajari olehmu,” kataku dalam hati.
Keenam, masalah pakaian tertukar antara satu pelanggan dengan pelanggan lain. Dua celana hilang, katanya. Tentang itu, aku tak habis pikir mengapa itu bisa terjadi. Padahal, aku sudah bekerja dengan sangat hati-hati. Aku tak tau ini salah siapa. Salahku? Salah temanku? atau hanya rekayasa? Entahlah semuanya masih absurd. Sejauh yang kuingat telah kupetakan satu persatu pakaian pelanggan. Nalarku mengatakan, bukan aku yang membuat kesahan itu. Kalau tidak temanku berarti ini rekayasa. Atau, sebenarnya celana itu tidak di Laundry, tapi terselib dibawah kasur yang punya, atau terselip dipakian-pakian yang lain dirumahnya? Entahlah, sampai aku menyatakan resend, aku masih dimintai pertanggungjawaban untuk menyelesaikan masalah tersebut. Bentuk tanggung jawabnya juga belum jelas. Paling-paling ya potong gaji. Tidak masalah jika masih masuk diakal dan bukan akal-akalan.
Secara umum, banyak pengalaman positif yang aku dapatkan. Mulai dari yang bersifat fikisik dan psikis. Bahkan, seandainya aku punya modal dan ingin mendirikan Laudry sendiri, mungkin sudah bisa. Hanya perlu banyak belajar mengenai menejemen agal lebih baik dan banyak pelanggan. Secara teknis sudah lumayan bagus insyaallah tidak akan mengecewakan pelanggan. Semoga menjadi pelajaran berharga di masa depan.
Akhir dari semuanya kukatakan: “Bekerja sendiri dengan hasil yang pas-pasan lebih baik dari bekerja kepada orang lain walau dibayar dengan sangat mahal. Lebih baik kita membeli waktu dari pada waktu kita yang dibeli untuk menjadi budak orang lain. Jadilah pembisnis yang handal jika ingin hidup nyaman!”
Langganan:
Postingan (Atom)